Maqalah Habib Ahmad Al-‘Athas, dalam kitab As-Shufiyatu Fil Miizaan, ngendikane Al-Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-‘Athas (Qaddasallaahu sirrah) “Sungguh tempat yang tidak dihuni manusia akan dihuni bangsa Jin, dan tempat yang dipakai buat ngopi tidak akan dihuni oleh bangsa Jin , bahkan tidak akan didekati oleh mereka".
Pada Shahifah ke-199 dijelaskan, apa yang ditetapkan oleh Mushanif, Qaddasallaahu Sirrah, beliau menukil keterangan dari gurunya Al-Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-Athas, sungguh dia berkata: Sayyid Ahmad bin Ali Al-Qadimi bertemu dengan Rosulullah saw dalam keadaan terjaga, dia berkata:
“Wahai Rosulullah, aku ingin mendengarkan sebuah hadits darimu langsung, dengan tanpa perantara”.
Rosulullah saw bersabda: aku mengajarkan kepadamu tiga hadits,
Pertama, selagi aroma kopi masih melekat pada bibirmanusia maka para Malaikat akan selalu beristighfar kepadanya.
Ke-dua, Siapa yang mengambil tasbihnya untuk berdzikir, maka ditetapkan baginya termasuk orang yang banyak berdzikir, baik dia berdzikir atau tidak melakukan dzikir.
Ke-tiga, siapa yang berkumpul dengan (waliyullah) kekasih Alloh baik dalam keadaan hidup atau setelah wafat maka dia bagaikan menghamba kepada Alloh hingga bumi terbelah-belah.
Minggu, 15 Mei 2016
Keutamaan kopi yang sering digunakan para waliyullah
75 Dosa Besar Yang Wajib Diketahui Umat islam
Dosa besar jumlahnya Berbeda-beda menurut pendapat para ulama. Ada yang menyatakan 4 dan 7 menurut Hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Ada pula yang membagi 2, iaitu yang dihukum di dunia dan diancam azab di akhirat.
Berikut ini adalah dosa-dosa besar menurut kitab Al Kabair karya Syamsudin Adz Dzahabi yang semuanya berjumlah 75 dosa besar. Dosa-dosa besar yang dimaksud adalah :
1. Menyekutukan Allah (Syirik)
2. Membunuh orang dengan sengaja
3. Sihir
4. Meninggalkan sholat Fardlu
5. Enggan membayar zakat
6. Tidak puasa Ramadhan tanpa alasan
7. Enggan menunaikan haji
8. Durhaka kepada kedua orang tua
9. Menjauhi kerabat ( Memutus hubungan silaturahmi )
10. Zina
11. Homoseksual
12. Riba
13. Memakan harta anak yatim dengan cara zalim
14. Dusta
15. Melarikan diri dari peperangan
16. Pemimpin yang menipu rakyat
17. Berlaku sombong
18. Kesaksian palsu
19. Minum minuman keras
20. Judi
21. Menuduh zinah kepada perempuan baik
22. Khianat dalam harta rampasan perang
23. Mencuri
24. Merampok
25. Sumpah palsu
26. Berbuat zolim
27. Membantu berbuat zolim
28. Memperoleh kekayaan dengan cara haram
29. Bunuh diri
30. Suka berbuat dusta
31. Hakim yang durhaka
32. Menyuap dalam masalah hukum
33. Perempuan menyerupai laki-laki dan sebaliknya
34. Mengasuh keluarga dalam dosa
35. Kawin dengan dasar cinta buta
36. Sisa kencing yang tidak dibersihkan
37. Riya ( Pamer)
38. Menyembunyikan ilmu
39. Khianat
40. Mengungkit-ungkit pemberian
41. Mengingkari takdir
42. Menyelidiki rahasia orang (Tajassus)
43. Mengadu domba ( Namimah)
44. Mengutuk orang muslim
45. Mengingkari janji
46. Percaya kepada dukun dan tukang ramal
47. Nusyuz seorang perempuan terhadap suami
48. Menggambar patung dan makhluk hidup lainnya
49. Meratapi orang mati ( Niyahah)
50. Berperangai jelek
51. Zalim terhadap orang yang lemah
52. Menyakiti hati tetanga
53. Menyakiti dan mencaci maki orang Islam
54. Durhaka terhadap hamba Allah
55. Mengagumi diri dan sombong dengan berpakaian yang berlebih-lebihan
56. Menyembelih binatang untuk sesajen
57. Hamba sahaya melarikan diri dari tuannya
58. Memalsukan keturunan
59. Menentang kebenaran
60. Enggan memberikan kelebihan air
61. Mengurangi Timbangan dan Takaran
62. Berbuat dosa tetapi merasa aman dari kemurkaan Allah
63. Meninggalkan jamaah sholat Jum’at
64. Curang dalam berwasiat
65. Tipu daya
66. Mencaci orang Islam dan membeberkan rahasianya
67. Makan dan minum pada bejana emas dan perak
68. Mencela sahabat Nabi Muhammad SAW
69. Buang air besar ditempat berteduh
70. Kencing di tempat air untuk mandi
71. Nifak : sifat yang berbeda antara lahir dan bathin
72. Lupa kepada Allah
73. Kikir
74. Memakan 4 makanan yang diharamkan: bangkai, Daging b@b1, darah dan daging binatang yang disembelih selain nama Allah
75. Kufur kepada Allah
Setelah kita mengetahui 75 macam dosa besar tersebut dan kita mungkin termasuk diantaranya, ada baiknya kita segera bertaubat untuk menghindari murka dan azab Allah SWT karana Allah berjanji akan segera menghapuskan dosa-dosa kita bila kita segera menyedari kesalahan dan bertaubat serta berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.
11 rahasia membaca Bismillah
Syaikh Nawawi memberi arti di sebalik tiap huruf yang menempel pada kalimat Basmillah ini.
Pertama, Ba `: Bara-atullah. Artinya jaminan keselamatan kepada orang-orang yang berbahagia dengan iman dalam dadanya. Dalam makna yang lebih dalam, orang beriman tidak boleh alpa dari membaca Bismillah dalam keadaan apapun, selama perbuatan itu berada dalam kebaikan.
Kedua, Sîn: Satrullah. Artinya perlindungan Allah. Makna ini memberi penjelasan bahawa orang yang beriman tidak pernah melewatkan tiap langkahnya dengan membaca Bismillah yang dengannya, kala ia bertemu orang yang melawan Allah, ia berlindung dari kebodohannya.
Ketiga, Mîm: mahabbattuhu. Artinya rasa cinta Allah kepada seorang Muslim yang membaca Baslamah. Seseorang yang ingin memperolehi cinta Allah, tentulah bibirnya tidak kering dari Bismillah.
Keempat, Alif: ulfatuhu. Artinya keramahan Allah. Allah itu Maharamah, Mahapengasih, lagi Maha Mengasihani. Keramahan Allah akan semakin muncul kepada mereka yang membaca Bismillah.
Kelima, Lâm: lathâfatuhu. Artinya kelembutan Allah. Hikmah di balik membaca Basmalah mendapat kemudahan dan kelembutan dalam hatinya. Sikap dan sifat buruk akan hilang berganti kebaikan dan hati berhias kelembutan.
Keenam, hâ `: hidâyatuhu. Artinya petunjuk Allah. Seseorang yang membaca Bismillah, akan terbimbing dan terarah dalam naungan hidayah.
Ketujuh, Râ `: ridhwânuhu. Artinya kerelaan Allah. Ridha Allah akan melekat pada sosok insane yang melafazkan Bismillah. Jika Allah telah redha pada seseorang, tidak ada lagi gunda dan gulana, kerana redha-Nya telah hinggap dalam diri. Pelaku maksiat pun yang membaca Bismillah dengan niat taubat kepada Allah, maka bacaan tersebut menjadi jambatan redha Allah.
Kelapan, Hâ: Hilmuhu. Artinya Kesabaran Allah. Hikmah ini memberi pelajaran tentang kesabaran Allah pada orang-orang yang berdosa. Mereka yang berbuat zalim, kezaliman, pergaduhan yang merugikan umat manusia, kekrisuhan, akan tetap memperoleh kesabaran dari Allah dengan bacaan Bismillah.
Kesembilan, Mîm: Minnatuhu. Anugerah Allah. Orang-orang yang beriman yang membaca Basmalah mendapat anugerah, kebajikan, dan anugerah Allah. Oleh itu, setiap perbuatan dan perkataan yang bermula dengan Bismillah, menjadi berkat untuk semua.
Kesepuluh, Nun: Nurul Ma `rifah. Artinya cahaya pengetahuan. Dengan kata lain, kalimat Bismillah mengandung unsur cahaya Ilahi. Dan cahaya itu diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa.
Kesebelas, Yâ `: Yadullâh. Artinya tangan (penjagaan) Allah. Allah memberikan penjagaan pada diri orang yang membaca Bismillah. Bacalah pada saat di rumah, kenderaan, tempat kerja, dan di mana saja. Dengan membaca tersebut, Allah turunkan penjagaan dan pengayoman kepadanya.
Kamis, 12 Mei 2016
Kisah Mengharukan Detik Wafatnya Rasulullah SAW
Assalamu'alaikum Wr. Wb saudaraku yang insya Allah dirahmati oleh Allah.
Kali ini adalah kisah yang mengharukan, detik-detik wafatnya Rasulullah SAW. Sang manusia agung, yang menjadi panutan seluruh manusia. Yang sosoknya tidak akan lekang dimakan oleh waktu. Semoga kisah ini menambah rasa cinta kita terhadap beliau untuk mengikuti jejaknya, Berikut kisah nya :
Diriwayatkan bahwa ayat Al maidah ayat 3, diturunkan setelah Ashar hari Jum’at di Arafah pada Haji Wada’. Waktu itu Nabi Muhammad SAW sedang mengerjakan wukuf di Arafah diatas unta, dan setelah ayat ini tidak lagi turun ayat tentang kewajiban. Ketika turun ayat ini Nabi Muhammad SAW merasa tidak kuat menanggung arti dari ayat tersebut. Beliau bertelekan (bersandar) pada untanya dan unta pun tertunduk.
Turunlah Malaikat Jibril dan berkata :”Ya Muhammad, benar-benar telah sempurna hari ini perihal agamamu dan telah selesai apa yang telah diperintahkan Tuhanmu kepadamu, dan apa yang dilarangNya padamu. Kumpulkan sahabat-sahabatmu dan kabarkan pada mereka bahwa aku tidak
akan lagi turun kepadamu setelah hari ini.” Lalu kembalilah Rasulullah dari Mekah ke Madinah. Dikumpulkannya sahabat-sahabatnya dan dibacakannya ayat tersebut kepada mereka serta menceritakan kepada mereka tentang apa yang dikatakan oleh Jibril AS.
Mendengar berita tersebut bergembiralah para sahabat dan mereka berkata :“Telah sempurna Agama kita” Kecuali Abu bakar ra. Dia sangat bersedih dan kembali kerumahnya. Dia mengunci pintu dan tenggelam dalam tangisnya siang malam. Para sahabat mendengar keadaan Abu Bakar itu, mereka berkumpul dan mendatangi rumah Abu Bakar ra.
Mereka bertanya : ”Hai Abu Bakar, mengapa engkau menangis pada saat kita harus bergembira dan senang? Karena Allah SWT telah
menyempurnakan Agama kita.”
Abu Bakar berkata : ”Hai para Sahabat,
kamu semua tidak mengetahui bencana yang akan menimpamu.
Bukankah kamu mendengar bahwa suatu perkara apabila telah sempurna maka
akan muncul kekurangannya? Ayat ini mengabarkan tentang perpisahan
kita, tentang keyatiman Hasan dan Husain dan tentang Istri-istri Nabi
Muhammad SAW yang akan menjadi janda.”
Maka terjadilah teriakan diantara para sahabat, mereka semua menangis,
dan Sahabat-sahabat lain yang tidak ikut hadir dirumah Abu Bakar
mendengar tangisan dari kamar Abu Bakar, lalu mereka datang kepada Nabi
Muhammad SAW, dan mereka berkata :”Ya Rasulullah, kami tidak tahu bagaimana keadaan para sahabat itu, hanya saja kami mendengar tangisan dan teriakan mereka.”
Maka berubahlah wajah Nabi Muhammad SAW dan berdiri segera menuju rumah
Abu Bakar dan bertemu para sahabat. Beliau melihat mereka dalam keadaan tersebut diatas,
Kemudian bersabda : ”Apakah yang membuat kamu menangis?”
Berkatalah Ali ra.: ”Tadi Abu Bakar berkata, Aku telah mencium bau wafat Rasulullah SAW dari
ayat ini. Apakah benar ayat ini dapat diambil sebagai petunjuk atas wafatmu?”.
Nabi Muhammad SAW bersabda : ”Benar Abu Bakar dalam ucapannya itu. Memang benar telah dekat keberangkatanku dari hadapanmu dan telah tiba saat perpisahanku dengan kamu semua.”
Setelah Abu Bakar ra. mendengar sabda Rasulullah itu berteriaklah dia sekeras-kerasnya dan jatuh tak sadarkan diri.
Ali ra. bergetar tubuhnya dan para sahabat lain menjadi ribut, mereka
ketakutan semuanya dan menangis sejadi-jadinya, hingga gunung-gunung
dan batu-batu ikut menangis bersama mereka, demikian pula para
Malaikat. Ulat-ulat dan binatang-binatang darat maupun di laut,
semuanya ikut menangis.
Kemudian Nabi Muhammad SAW berjabatan dengan para setiap orang dari
para sahabat, berpamitan dan menangis serta memberi wasiat kepada
mereka. Kemudian Beliau hidup setelah turunnya ayat tersebut dalam
delapan puluh satu hari.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Bahwa setelah dekat wafat Nabi
Muhammad SAW, Beliau memerintahkan Bilal untuk menyerukan shalat kepada
manusia. Bilal lalu menyerukan Adzan dan berkumpullah para Sahabat
Muhajirin dan Anshar ke Masjid Rasulullah SAW. Beliau mengerjakan
shalat dua rakaat ringan bersama para sahabat. Kemudian naik mimbar,
memuji dan menyebut keagungan Allah SWT.
Beliau berkhutbah dengan sebuah khutbah yang dalam, hati menjadi takut karenanya, dan air mata bercucuran karenanya.
Kemudian Beliau bersabda :
”Wahai sekalian muslimin, sesungguhnya aku adalah seorang Nabi kepada kamu,
pemberi nasihat dan berda’wah kepada Allah SWT dengan seijinNya. Dan
aku berlaku kepadamu sebagai seorang saudara yang menyayangi dan
sekaligus sebagai ayah yang belas kasih. Barang siapa diantara kamu
yang mempunyai suatu penganiayaan pada diriku, maka hendaklah dia
berdiri dan membalas kepadaku sebelum datang balas membalas di hari
kiamat.”
Tidak ada seorangpun yang berdiri menghadapnya, sehingga Beliau
bersabda demikian kedua kali dan ketiga kalinya. Barulah berdiri
seorang laki-laki bernama Ukasyah bin Muhshin.
Berdirilah dia didepan Nabi Muhammad SAW dan berkata : “Demi
Ayah dan Ibuku sebagai tebusanmu Ya Rasulullah, seandainya engkau tidak
mengumumkan kepada kami berkali-kali, tentu aku tidak akan mengajukan
sesuatu mengenai itu. Sungguh aku pernah bersamamu di Perang Badar.
Saat itu untaku mendahului untamu. Maka turunlan aku dari unta dan
mendekatimu agar aku dapat mencium pahamu. Tetapi engkau lalu
mengangkat tongkat yang biasa engkau pergunakan untuk memukul unta agar
cepat jalannya dan engkau pukul lambungku. Aku tidak tahu apakah itu
atas kesengajaan dirimu atau engkau maksudkan untuk memukul untamu ya
Rasulullah?”.
Rasulullah bersabda: ”Mohon perlindungan kepada Allah hai Ukasyah, kalau Rasulullah sengaja memukulmu."
Bersabda lagi Beliau kepada Bilal: ”Hai Bilal, berangkatlah ke rumah Fathimah dan ambilkan tongkatku.”
Maka keluarlah Bilal dari Masjid sedang tangannya diatas kepalanya:
”Ini adalah Rasulullah, sekarang Beliau memberikan dirinya untuk diqishash.”
Dia mengetuk pintu Fathimah, dan bertanyalah Fathimah: ”Siapa yang ada di depan pintu?”
Bilal menjawab: ”Aku datang untuk mengambil tongkat Rasulullah”
Fathimah bertanya : ”Hai Bilal, apa yang akan diperbuat Ayah dengan tongkat itu?”
Bilal menjawab: ”Hai Fathimah, Ayahmu memberikan dirinya untuk di qhisash."
Fathimah bertanya lagi: ”Hai Bilal, siapakah yang sampai hatinya mau membalas pada Rasulullah?”
Lalu Bilal mengambil tongkat itu dan masuklah dia ke Masjid serta
memberikan tongkat itu kepada Rasulullah, sedang Rasul kemudian
menyerahkannya kepada Ukasyah.
Ketika Abu Bakar dan Umar ra. memandangnya, maka berdirilah mereka berdua dan berkata : ”Hai Ukasyah, aku masih berada didepanmu, maka balaslah kami dan janganlah engkau membalas kepada Nabi Muhammad SAW.”
Bersabdalah Rasulullah SAW: ”Duduklah engkau berdua, Allah telah mengetahui kedudukanmu.”
Berdiri pula Ali ra. dan berkatalah dia: ”Hai Ukasyah, aku
masih hidup didepan Nabi Muhammad SAW. Tidak akan aku sampai hati kalau
engkau membalas Rasulullah SAW. Ini punggungku dan perutku, balaslah
aku dengan tanganmu dan deralah aku dengan tanganmu.”
Nabi Muhammad SAW bersabda : ”Hai Ali, Allah telah mengetahui kedudukan dan niatmu.”
Berdiri pula Hasan dan Husain, dan mereka berkata : ”Hai
Ukasyah, bukankan engkau mengenal kami berdua. Kami adalah dua orang
cucu Rasulullah. Membalas kepada kami adalah sama seperti membalas
kepada Rasulullah.”
Nabi Muhammad SAW bersabda : ”Duduklah engkau berdua wahai kegembiraan mataku.”
Kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda: ”Hai Ukasyah, pukullah kalau engkau mau memukul.”
Ukasyah berkata: ”Ya Rasulullah, engkau memukulku dahulu dalam keadaan aku tidak terhalang pakaianku.”
Lalu Rasulullah menyingkapkan pakaiaannya, dan berteriaklah orang-orang Islam yang hadir seraya menangis.
Ketika melihat putihnya jasad Rasulullah, Ukasyah menubruknya dan mencium punggungnya.
Berkatalah dia:
”Nyawaku sebagai tebusanmu ya Rasulullah, siapakah yang akan sampai hati untuk
membalasmu ya Rasulullah. Aku melakukannya hanya mengharapkan agar
tubuhku dapat menyentuh jasadmu yang mulia, dan Allah akan memelihara
aku berkat kehormatanmu dari neraka.”
Bersabdalah Nabi Muhammad SAW: ”Ingat, barang siapa yang ingin melihat penghuni surga maka hendaklah dia melihat orang ini.”
Semua orang Islam yang hadir berdiri, dan mencium antara kedua mata Ukasyah seraya berkata : ”Beruntung sekali engkau, engkau berhasil mendapatkan derajat yang tinggi dan berkawan dengan Nabi Muhammad SAW di surga.”
Ya Allah, mudahkanlah kepada kami untuk mendapatkan syafa’atnya, berkat keagungan dan kemegahanMu
(Dari Mau’idhatul Hasanah)
Ibnu Mas’ud berkata: ”Ketika dekat wafat Nabi Muhammad SAW
berkumpullah kami di rumah Ibu kita Aisyah. Kemudian Beliau memandang
kami dan bercucuranlah air matanya.
Beliau bersabda:
”Marhaban bikum rahimakumullah” (selamat datang kamu semua, mudah-mudahan Allah memberi rahmat kepada kamu) aku berwasiat kepada kamu agar takwa kepada Allah dan taat kepadaNya. Telah dekat perpisahan dan telah tiba kembali kepada Allah dan ke surga Al-Ma’waa. Hendaklah nanti Ali yang
memandikan aku, Al-Fadhal bin Abbas yang menuangkan air dan Usamah bin
Zaid yang membantu keduanya. Kafanilah aku dengan pakaianku sendiri
kalau kamu mau, atau dengan pakaian buatan Yaman yang putih. Jika kamu
sudah memandikan aku letakkanlah aku di tempat tidurku didalam kamarku
ini di tepi liang lahadku. Kemudian keluarlah meninggalkan aku sesaat.
Karena pertama-tama yang menshalatkan aku adalah Allah Azza wa Jalla,
kemudian Jibril, kemudian Israfil, kemudian Mika’il, kemudian Malaikat
Maut beserta anak buahnya, kemudian semua Malaikat yang lain. Setelah
ini barulah kamu masuk sekelompok demi sekelompok dan shalatkanlah aku.”
Setelah mereka mendengar kata perpisahan Nabi Muhammad SAW ini mereka berteriak seraya menangis.
Mereka berkata:
”Ya Rasulullah, engkau adalah Rasul kami
dan kepala kumpulan kami. Serta penguasa perkara kami. Jika engkau
harus pergi, lalu kepada siapakah nanti kami akan kembali dalam
menghadapi kesulitan?”
Nabi Muhammad SAW bersabda :
”Aku tinggalkan kamu pada jalan kebenaran dan jalan
yang bersinar dan aku tinggalkan untuk kamu dua penasehat: Yang
berbicara dan yang diam. Yang berbicara adalah Al-Qur’an, sedang yang
diam adalah kematian. Apabila ada sebuah kesulitan pada kamu maka
kembalilah kepada Al-Qur’an dan Sunnah, dan apabila hatimu keras
membantu lembutkanlah dia dengan mengambil pelajaran dengan hal ihwal
kematian.”
Detik-detik Rasulullah saw menjelang sakaratul maut.
Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Ku wariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berarti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku."
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu.
Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa.
Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.
"Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemu dian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak dikenang.
"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah? " tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar kabar ini? " tanya Jibril lagi. "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril?"
Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku". Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan diwajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
"Ummatii, ummatii, ummatiii" - "Umatku, umatku, umatku" Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini, mampukah kita mencinta sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wasalim 'alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Kirimkan kepada sahabat-2 muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan RasulNya mencinta kita. Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka.
Begitulah kisah sedih nabi Muhammad SAW sebelum beliau wafat.
Bagaimana kita membalas semua jasa-jasa beliau ? Yaitu dengan cara mengerjakan sunah-sunah dari beliau dan banyak-banyak bersholawat kepada beliau.
Semoga kita semua mendapat syafaat beliau. Amin yaa robbal 'alamin.
Demikian dulu kisah dari beliau,kalau nya ada salah mohon maaf,saya akhiri
Summassalamu'alaikum Wr. Wb.
Rabu, 11 Mei 2016
PERBANYAKLAH BERSHALAWAT
Syekh Umar lantas berpesan kepada kaum Muslimin untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Minimal 10 kali dalam sehari.
“Barang siapa yang mengucapkan shalawat, maka akan diangkat dosanya dan dimudahkan kehidupannya,” kata Syekh Umar.
Minggu, 08 Mei 2016
ORANG YANG DIDO'AKAN MALAIKAT
Assalamu'alaikum Wr Wb Saudaraku yang InsyaAllah diRahmati ALLAH SWT.
Mau didoakan Malaikat ?.
Masuklah dalam 9 golongan orang sbb. :
1. Orang yg selalu ber sholawat
2. Orang yg Sholat di shaff terdepan.
3. Orang yg merapatkan dan meluruskan shaff sholat
4. Wanita yg hamil
5. Wanita yg merawat anaknya/balita
6. Orang yg mendoakan orang lain
7. Orang yg duduk menunggu Sholat
8. Orang yg tidur dalam keadaan suci
9. Orang yg membesuk orang sakit
Bagaimana Saudaraku, Tidak sulit bukan ?
Kapan dan dimanapun kita berada,
Bacalah Shallawat Nabi sebanyak2-nya.
Karena orang yg paling dekat dengan Nabi SAW, adalah orang yg paling banyak bersholawat kepadanya.
Bila bertemu orang yg dalam kesulitan,
Doakanlah Semoga ALLAH SWT Memberikan kemudahan.
Bila bertemu Saudara kita yg belum Nikah, Doakanlah, Semoga ALLAH SWT segera Mempertemukan Jodohnya.
Bila bertemu Saudara kita yg belum punya anak,
Doakanlah, Semoga ALLAH SWT segera Memberikan Keturunan yg Saleh.
Saudaraku.
Jangan pernah berhenti berdoa, karena Doa adalah senjatanya orang Mukmin.
Selamat bertebaran di Bumi ALLAH SWT Mencari Rejeki yang Halal.
Berwudhu sebelum keluar rumah,
Berdoa sebelum melangkah.
Jangan lupa Doa, Dzikir dan Sholawat Nabinya.
InsyaAllah Perjalanan kita ALLAH SWT Lindungi.
DOA PAGI HARI :
ALLAHUMMA INNI ASALUKA 'ILMAN NAFI'AN
WA RIZQON THOYYIBAN
WA 'AMALLAN MUTAQOBBALAN.
YA ALLAH, aku memohon kepada-MU Ilmu yang bermanfaat,
Rizki yang halal,
Dan Amalan yang maqbul (diterima).
(HR. AHMAD (6/322)
DZIKIR :
SUBHAANALLAH,
WALHAMDULILLAAH,
WA LAAILLAAHA ILLALLAAH,
ALLAHU AKBAR,
SHOLAWAT NABI :
Yaa Nabi Salam Alaika,
Yaa Rasul Salam Alaika,
Yaa Habib Salam Alaika,
Sholawatullah Alaika.
Kalau mau masuk Surga jangan sendiri,
Ajak yg lain dengan mengirimkan Tulisan ini.
Semoga kelak, kita dikumpulkan bersama Nabi Muhammad SAW, Aamiin.
Wassalamu'alaikum Wr Wb.
Ada seseorang yang SHALAT selama 60 TAHUN tapi TIDAK SATUPUN shalatnya diterima Allah?
Mengapa bisa demikian?
Simak lebih lanjut di bawah ini...
Dari Abu ad-Darda’ dari Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,
أول سيئ يرفع من هذه الأمة الخشوع ، حتى لاترى فيها خا شعا
“Perkara pertama yang diangkat dari umat ini adalah kekhusyu ‘an sehingga kamu tidak melihat seorang pun yang khusyu’ di dalamnya.”
(Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dengan sanad hasan marfu’ berdasarkan syawahidnya1)
Dari Mutharrif dari bapaknya berkata,
“Aku melihat Rasulullah shalat sementara dari dadanya keluar suara seperti suara penggilingan yang bergerak keras karena menangis.”
Diriwayatkan oleh Abu Dawud, dan an-Nasa’i dan lafazhnya,
“Aku melihat Rasulullah shalat sementara dari rongga mulutnya terdengar suara seperti suara bejana yang mendidih, beliau yakni menangis. ”
(Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah2 dan Ibnu Hibban dalam Shahih mereka berdua senada dengan riwayat an-Nasa’i)
Dari Ali ia berkata,
“Pada perang Badar kami tidak memiliki (pasukan) penunggang kuda kecuali al-Miqdad. Aku melihat teman-teman, tak seorang pun kecuali dia tidur, kecuali Rasulullah di bawah pohon, beliau shalat dan menangis sampai pagi.”
(Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya.)
Ancaman bagi orang yang tidak memperhatikan shalatnya
TIDAK SAHnya Shalat bagi orang yang tidak menyempurnakan ruku’ dan sujud
Dari Abu Mas’ud al-Badri dia berkata, Rasulullah bersabda,
لَا تُجْزِئُ صَلَاةُ الرَّجُلِ حَتَّى يُقِيمَ ظَهْرَهُ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ
“Shalat seseorang TIDAK SAH sehingga dia MENEGAKKAN punggungnya dalam ruku’ dan sujud.”
(Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan lafazh hadits ini adalah lafazhnya, at-Tirmidzi, an-Nasab, Ibnu Majah, Ibnu Khuzai mah, dan Ibnu Hibban dalam Shahih mereka berdua. Dan diriwayatkan oleh ath-Thabrani, (ad-Daruquthni) dan al-Baihaqi keduanya berkata, “Sanadnya shahih lagi pasti.” At-Tirmidzi berkata, “Hadits hasan shahih.”; hadits ini juga dishahiihkan oleh Syaikh al-Albaniy dalam at-targhiib wat tarhiib; no. 522)
Dari Ali bin Syaiban berkata,
“Kami berangkat untuk bertemu Rasulullah Mgdan kami membaiat- nya. Kami shalat di belakangnya, dan ketika beliau melirik dengan ujung matanya kepada seorang laki-laki yang tidak menegakkan shalatnya yakni tulang punggungnya dalam ruku’ dan sujud. Selesai shalat Nabi bersabda,
يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ إِنَّهُ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَا يُقِيمُ صُلْبَهُ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ
“Wahai kaum muslimin, TIDAK ADA SHALAT bagi yang TIDAK MENENGAKKAN TULANG PUNGGUNGNYA dalam RUKU’ dan SUJUD.”
(Shahiih. Diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam Shahih keduanya.)
Shalatnya orang-orang munafik adalah seperti burung mematuk makanannya
Dari Abdur Rahman bin Syibl, dia berkata,
“‘Rasulullah melarang (gerakan shalat) seperti patokan gagak3, menjulurkan lengan di tanah seperti binatang buas dan seorang laki-laki me- milih satu tempat (terus-menerus) di masjid seperti yang dilakukan oleh unta.”
(Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam Shahih mereka berdua. hadits ini juga dihasankan oleh Syaikh al-Albaniy dalam at-targhiib wat tarhiib; no. 523)
Allah berfirman:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (An-Nisaa: 142)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيْ الشَّيْطَانِ قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا لَا يَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا
“(Shalat Ashar) itulah shalat (yang biasanya ditelantarkan) orang munafik, ia duduk mengamat-amati matahari, jika matahari telah berada diantara dua tanduk setan, ia melakukannya dan ia mematuk empat kali (- Rasul pergunakan istilah mematuk, untuk menyatakan sedemikian cepatnya, bagaikan jago mematuk makanan pent) ia tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.”
(HR. Muslim)
Pencuri yang paling buruk adalah orang yang tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya
Dari Abu Qatadah berkata, Rasulullah bersabda,
أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلاتِهِ
“Orang paling buruk pencuriannya adalah orang yang mencuri dari shalatnya.”
Mereka bertanya,
“Ya Rasulullah, bagaimana dia mencuri dari shalatnya?”
Rasulullah menjawab,
لا يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَلا سُجُودَهَا
“Dia tidak menyempurnakan ruku’ nya tidak pula sujudnya,”
atau beliau bersabda
لا يُقِيمُ صُلْبَهُ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ
“Tidak menegakkan tulang punggungnya dalam ruku’ dan sujud-.”
(Diriwayatkan oleh Ahmad, ath-Thabrani dan Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya dan al-Hakim, dan dia berkata, “Sanadnya shahih.”; hadits ini juga dihasankan oleh Syaikh al-Albaniy dalam at-targhiib wat tarhiib; no. 524)
Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda,:
أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ صَلاتَهُ
“Orang yang paling buruk pencuriannya adalah orang yang mencuri shalatnya.”
Dia berkata,
“Bagaimana dia mencuri shalatnya?”
Beliau menjawab,
لا يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَلا سُجُودَهَا
“Dia tidak menyempurnakan ruku’ dan tidak pula (menyempurnakan) sujudnya.”
(Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu ‘jam al-Ausath, Ibnu Hibban dalam Shahihnya dan al-Hakim dan dia menshahih- kannya. dihasankan oleh al-albaaniy dalam at-targhiib wat tarhiib; HN. 533)
Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari [Yahya bin Sa’id] dari [Nu’man bin bin Murrah], bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya:
مَا تَرَوْنَ فِي الشَّارِبِ وَالسَّارِقِ وَالزَّانِي وَذَلِكَ قَبْلَ أَنْ يُنْزَلَ فِيهِمْ
“Apa pendapat kalian tentang peminum, pencuri dan pezina?”
pada saat itu belum turun ayat kepada mereka yang menjelaskan tentang hal itu.
Mereka menjawab;
“Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”
Beliau bersabda:
هُنَّ فَوَاحِشُ وَفِيهِنَّ عُقُوبَةٌ وَأَسْوَأُ السَّرِقَةِ الَّذِي يَسْرِقُ صَلَاتَهُ
“Semua itu adalah perbuatan keji dan di dalamnya terdapat hukuman. Sejelek-jelek pencuri ialah orang yang mencuri dalam shalatnya.”
Mereka bertanya;
“Wahai Rasulullah, bagaimana seorang mencuri shalatnya?”
Beliau menjawab:
لَا يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَلَا سُجُودَهَا
“Dia tidak menyempurnakan rukuknya dan sujudnya.”
(HR. Maalik; Shahiih Lighairihi sebagaimana dikatakan syaikh al-albaaniy dalam at-targhiib wat tarhiib HN. 534)
Syaikh al-Albaniy berkomentar terhadap hadits ini:
An-Nu’man ini adalah seorang tabiin besar. Dikatakan di at-Taqrib, “…dia adalah seorang al-Anshari az- Zuraqi al-Madani, tsiqah dari tingkatan kedua. Dan keliru orang yang menganggapnya sahabat.” Dari sini semestinya penulis mengisyaratkan dengan ucapannya setelah dia mentakhrijnya,
‘hadits ini mursal’, sebagai- mana itu adalah kebiasaannya dalam hadits-hadits senada agar tidak dipahami secara salah bahwa dia adalah sahabat seperti yang dilakukan oleh Imarah dalam cetakannya di mana dia menambahkan, yang justru membuatnya semakin kabur. Akan tetapi hadits ini didukung oleh hadits sebelumnya. Ibnu Abdul Bar di at-Tamhid berkata 23/409,
“Para rawi dari Malik tidak berbeda pendapat bahwa ia mursal. Ia adalah hadits shahih yang dikuatkan dari beberapa jalan periwayatan di antaranya dari hadits Abu Hurairah dan hadits Abu Said.”
Kemudian dia menurunkan sanad keduanya. Dan hadits Abu Hurairah telah hadir sebelum ini.
Dari Abdullah bin Mughaffal dia berkata, Rasulullah bersabda:
أَسْوَأُ النَّاسِ الَّذِي يَسْرِقُ صَلَاتَهُ
“Pencuri terburuk adalah yang mencuri shalatnya.”
Rasulullah ditanya,
“Ya Rasulullah, bagaimana mencuri shalatnya?”
Beliau menjawab,
لا يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَ سُجُودَهَا
“Tidak menyempurnakan ruku ‘dan sujudnya.”
و أَبْخَلَ النَّاسِ مَنْ بَخِلَ بِالسَّلامِ
“Dan orang yang terkikir adalah yang kikir terhadap salam.”
(Diriwayatkan oleh ath-Thabrani di ketiga Mu ‘jamnya dengan sanad baik (jayid). hadits ini juga dihasankan oleh Syaikh al-Albaniy dalam at-targhiib wat tarhiib; no. 525)
Allah tidak melihat seorang hamba yang tidak menyempurnakan ruku’ dan sujud
Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda:
لَا يَنْظُرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى صَلَاةِ عَبْدٍ لَا يُقِيمُ فِيهَا صُلْبَهُ بَيْنَ رُكُوعِهَا وَسُجُودِهَا
“Allah AzzaWaJalla tidak melihat shalat seorang hamba yang tidak menegakkan tulang punggungnya pada saat ruku’ dan sujudnya.”
Dalam riwayat lain
لَا يَنْظُرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى رَجُلٍ لَا يُقِيمُ صُلْبَهُ بَيْنَ رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ
“Allah AzzaWaJalla tidak melihat seorang laki-laki yang tidak menegakkan tulang punggungnya antara ruku’nya dan sujudnya.”
(Hasan Shahiih; HR. Ahmad, ath Thabraniy dan selainnya; dikatakan hasan shahiih oleh syaikh al-albaniy dalam at-targhiib wat tarhiib; HN. 527)
Allah TIDAK MENERIMA SHALAT orang yang tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
إِنَّ الرَّجُلَ لَيُصَلِّي سِتِّينَ سَنَةً وَلا يَقْبَلُ اللَّهُ لَهُ صَلاةً
Sesungguhnya seseorang melaksanakan shalat selama ENAM PULUH TAHUN, akan tetapi TIDAK SATUPUN shalatnya diterima Allah…
لَعَلَّهُ يُتِمُّ الرُّكُوعَ ، وَلا يُتِمُّ السُّجُودَ
Disebabkan karena ia tidak menyempurnakan ruku’ atau tidak menyempurnakan sujud…
(HR Abul Qasim ashbahaniy, dan selainnya: dihasankan oleh Syaikh al albaaniy [lihat ash shahiihah dan shahiih at targhiib wat tarhiib])
Jika shalat tidak diterima, maka amalan yang lain pun tidak diterima
Dari Abu Hurrayrah, Rasulullah bersabda:
الصلاة ثلاثة أثلاث : الطهور ثلث ، والركوع ثلث ، والسجود ثلث ، فمن أداها بحقها قبلت منه وقبل منه سائر عمله ومن ردت عليه صلاته رد عليها سائر عمله
“(Hak) shalat itu ada tiga bagian, bersuci sepertiga, ruku’ sepertiga dan sujud sepertiga. Barangsiapa melaksanakan dengan memenuhi haknya, maka shalat tersebut diterima darinya dan sisa amalnya yang lain juga diterima. Barangsiapa yang shalatnya ditolak (karena tidak memenuhi haknya), maka sisa amalnya yang lain ditolak.”
[Diriwayatkan oleh al-Bazzar, d a n d ia berkata, “Kami tidak mengetahuinya diriwayatkan secara marfu’ kecuali dari hadits al- Mughirah bin Muslim.” (Al-Hafizh berkata), “Sanadnya hasan.” HN. 539 dalam shahiih at targhiib wat tarhiib]
Seorang yang mati dalam keadaan tidak menyempurnakan sujud dan ruku’ dalam shalatnya, maka ia mati bukan diatas ajaran Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam
Dari Abu Abdullah al-Asy’ari,
“Bahwa Rasulullah Mmelihat seorang laki-laki yang tidak menyem- purnakan ruku ‘nya dan mematok (sangat cepat) dalam sujudnya, sementara dia shalat.
Maka Rasulullah bersabda,
لَوْ مَاتَ هَذَا عَلَى حَالِهِ هَذِهِ مَاتَ عَلَى غَيْرِ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
‘Seandainya orang ini mati dengan keadaannya yang ini niscaya dia mati bukan di atas ajaran Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam-‘
Kemudian Rasulullah bersabda,
مَثَلُ الَّذِي لا يُتِمُّ رُكُوعَهُ وَيَنْقُرُ فِي سُجُودِهِ مَثَلُ الْجَائِعِ يَأْكُلُ التَّمْرَةَ وَالتَّمْرَتَيْنِ لا يُغْنِيَانِ عَنْهُ شَيْئًا
‘Perumpamaan orang yang tidak menyempurnakan ruku ‘nya dan mematok (sangat cepat) dalam sujudnya adalah seperti orang lapar yang makan satu atau dua biji kurma, yang sama sekali tidak mengenyangkannya’.”
Abu Shalih berkata,
Aku berkata kepada Abu Abdullah,
“Siapa yang menyampaikan ini kepadamu dari Rasulullah?”
Dia menjawab,
“Para panglima perang, Amr bin al-Ash, Khalid bin al-Walid dan Syurahbil bin Hasanah; mereka mendengarnya dari Rasulullah.”
(Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, Abu Ya’la dengan sanad hasan dan Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya; dihasankan oleh syaikh al-albaaniy dalam at-targhiib wat tarhiib; HN. 528)
Dari Bilal:
“Bahwasanya dia melihat seorang laki-laki yang tidak menyempur- nakan ruku’ dan tidak pula sujud, maka dia berkata,
‘Kalau orang ini mati maka dia mati bukan di atas agama Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa sallam”
(Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dan rawi-rawinya tsiqah (terpercaya). DIkatakan “Shahiih Mauquf” oleh syaikh al-albaaniy dalam at-targhiib wat tarhiib; HN. 530)
Diriwayatkan Imam al-Bukhariy, dari Hudzaifah:
Bahwa ia melihat seorang lelaki tidak menyempurnakan ruku’ dan sujud dalam shalatnya, beliau berkata: “Engkau belum shalat, seandainya engkau mati (dalam keadaan –shalatmu– demikian), niscaya engkau mati tidak diatas fithrah yang telah Allah gariskan untuk Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam
(HR. Bukhariy, no. 791)
Dijelaskan oleh Asy-Syaikh Salim bin ‘Id al-Halaliy dalam Mausuu’ah al-Manaahiyyiys Syar’iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyah (Edisi Indonesia: “Ensiklopedi Larangan menurut al Qur-aan dan as-Sunnah):
1. Hadits-hadits diatas seluruhnya merupakan bantahan terhadap orang-orang yang tidak mewajibkan thuma’ninah dalam ruku’ dan sujud dan tidak mewajibkan meluruskan punggung ketika i’tidal
2. Thuma’ninah ketika ruku’ dan sujud serta meluruskan punggung ketika i’tidal merupakan salah satu rukun shalat.
3. Tidak menyempurnakan ruku’ dan sujud serta tidak meluruskan punggung ketika i’tidal merupakan bentuk pencurian yang paling buruk. Ini menunjukkan tegasnya pengharam terhadap perbuatan tersebut.
4. Melalaikan dan tidak thuma’ninah ketika ruku’ dan sujud dapat membatalkan shalat, dalilnya adalah sebagai berikut:
1.Shalat TIDAK SAH tanpa thuma’ninah ketika ruku’ dan sujud
2.TIDAK ADA SHALAT bagi yang tidak thuma’ninah ketika ruku’ dan sujud
3.Allah tidak melihat orang yang tidak thuma’ninah dalam ruku’ dan sujudnya
4.Orang yang tidak menyempurnakan ruku’ dan sujud, (maka) shalatnya tidak diterima, meskipun ia telah mengerjakannya selama enam puluh tahun
5.Barangsiapa yang mati dalam keadaan demikian, yaitu tidak thuma’ninah ketika ruku’ dan sujud, maka ia mati diatas selain millah Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam
Semua perkara diatas secara jelas dan tegas menunjukkan batalnya shalat orang yang tidak thuma’ninah dalam ruku’ dan sujud. Hadits tentang kisah orang yang buruk shalatnya adlaah dalil yang sangat jelas dalam masalah ini.
(ENSIKLOPEDIA LARANGAN Jilid 1 – Pustaka Imam Asy Syafi’i, hlm. 565 (ctkn thn 2003); judul asli: Mausuu’ah al-Manaahiyyiys Syar’iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyah; Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali; Daar Ibnu ‘Affan Th. 1419 H)
Kewajiban untuk membaguskan shalat
Dari Abu Hurairah, ia berkata,
“Suatu hari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengerjakan shalat, dan setelah selesai beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
يَا فُلَانُ أَلَا تُحَسِّنُ صَلَاتَكَ أَلَا يَنْظُرُ الْمُصَلِّي كَيْفَ يُصَلِّي لِنَفْسِهِ إِنِّي أُبْصِرُ مِنْ وَرَائِي كَمَا أُبْصِرُ بَيْنَ يَدَيَّ
‘Wahai Fulan, kenapa engkau tidak membaguskan shalatmu? Kenapa orang yang shalat itu tidak mau intropeksi bagaimana ia mengerjakan shalat untuk dirinya? Sesungguhnya aku mampu melihat dari belakangku seperti aku melihat melalui depanku’..”
Dalam riwayat lain:
“Rasulullah shalat zhuhur mengimami kami, setelah salam beliau memanggil seorang laki-laki yang ada di shaf terakhir, beliau bersabda,
يا فلان ، ألا تتقي الله !؟ ألا تنظر كيف تصلي ؟! إن أحدكم إذا قام يصلي إنما يقوم يناجي ربه … فلينظر كيف ينجيه ! إنكم ترون أني لا أ راكم ، إني و الله لأرى من خلف ظهري ، كما أرى من بين يدي
‘Wahai fulan, tidakkah kamu bertakwa kepada Allah. Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana kamu shalat? Sesungguhnya salah seorang dari kalian jika dia berdiri shalat, dia berdiri bermunajat kepada Rabbnya maka hendaknya dia memperhatikan bagaimana dia bermunajat kepadaNya, sesungguhnya kalian beranggapan aku tidak melihat kalian. Demi Allah, sesungguhnya aku melihat di belakang punggungku seperti aku melihat di depanku’.”
Dan juga riwayat beliau yang lain:
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنِّي لَأَنْظُرُ إِلَى مَا وَرَائِي كَمَا أَنْظُرُ إِلَى مَا بَيْنَ يَدَيَّ فَسَوُّوا صُفُوفَكُمْ وَأَحْسِنُوا رُكُوعَكُمْ وَسُجُودَكُمْ
“Dan demi Dzat yang jiwa Muhammad ada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya aku dapat melihat apa yang ada di belakangku sebagaimana aku dapat melihat apa yang ada di depanku, maka luruskanlah barisan shalatmu serta perbagus ruku’ dan sujud kalian.”
(Shahiih; Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, an-Nasaa-iy, Ibnu Khuzaimah dalam shahiihnya, al-Hakim dalam shahiihnya; dan selainnya)
An-Nawawi berkata dalam Syarah Shahih Muslim,
“Para ulama berkata,
‘Maknanya adalah bahwa Allah menciptakan untuk Nabi daya kemampuan untuk mengetahui di tengkuknya yang dengannya dia melihat di belakangnya. Dan mukjizat terjadi pada Nabi lebih dari ini dan tidak ada bukti akal dan syara’ yang menolak ini bahkan syara’ datang menjelaskannya secara zhahir, maka ia harus diyakini.”
Al-Qadhi berkata,
“Imam Ahmad bin Hanbal dan jumhur ulama berkata, ‘Penglihatan Nabi ini adalah penglihatan dengan mata kepala secara hakiki.”
Cara Shalat Yang Sempurna
dari [Abu Hurairah] radliallahu ‘anhu
bahwa (ia menceritakan bahwa ada) seorang laki-laki memasuki masjid, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tengah duduk di pojok masjid, kemudian laki-laki itu mengerjakan shalat. Seusai shalat ia datang menemui beliau sambil mengucapkan salam, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya:
وَعَلَيْكَ السَّلَامُ فَارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ
“Wa’alikas salam, Kembalilah dan ulangi shalatmu karena kamu belum mengerjakan shalat! ‘
lalu ia kembali lagi dan mengulangi shalatnya.
Seusai shalat ia datang lagi sambil mengucapkan salam dan beliau bersabda:
وَعَلَيْكَ السَّلَامُ فَارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ
“Wa’alaikas-salam. Kembali dan ulangi lagi shalatmu karena kamu belum mengerjakan shalat! ‘
Lalu orang tersebut berkata ketika disuruh mengulangi yang kedua kali atau setelahnya;
“Ajarilah aku wahai Rasulullah!”
Dalam riwayat lain disebutkan:
‘Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak dapat melakukan yang lebih baik selain daripada ini, ajarkanlah kepadaku.’
Dalam riwayat lain disebutkan:
“Beritahukan dan ajarilah aku, karena aku hanyalah manusia biasa, kadang benar dan kadang salah, ”
Selanjutnya beliau bersabda:
إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَأَسْبِغْ الْوُضُوءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلْ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ بِمَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَسْتَوِيَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا
‘Jika kamu hendak mengerjakan shalat, maka sempurnakanlah wudlu’, lalu menghadap ke arah Kiblat, setelah itu bertakbirlah, kemudian bacalah Al Qur’an yang mudah bagimu. Kemudian ruku’lah hingga kamu benar-benar ruku’ dan bangkitlah dari ruku’ hingga kamu berdiri tegak. Lalu sujudlah kamu hingga kamu benar-benar sujud, dan bangkitlah hingga kamu benar-benar duduk, setelah itu sujudlah hingga kamu benar-benar sujud, lalu bangkitlah hingga kamu benar-benar duduk, dan Kerjakanlah semua hal tersebut pada setiap shalatmu.”
[Abu Usamah] mengatakan di akhir haditsnya;
…حَتَّى تَسْتَوِيَ قَائِمًا
“Sehingga kamu benar-benar berdiri.”
dalam riwayat Abu dawud ditambahkan:
فَإِذَا فَعَلْتَ هَذَا فَقَدْ تَمَّتْ صَلَاتُكَ وَمَا انْتَقَصْتَ مِنْ هَذَا شَيْئًا فَإِنَّمَا انْتَقَصْتَهُ مِنْ صَلَاتِكَ
“Jika kamu melakukan seperti ini, maka shalatmu menjadi sempurna, dan apabila kamu mengurangi dari cara ini, berarti kesempurnaan shalatmu juga akan terkurangi.”
dari [Ali bin Yahya bin Khallad] dari [pamannya] bahwa seorang laki-laki masuk masjid…” selanjutnya dia melanjutkan seperti hadits di atas, lalu dia berkata;
“Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّهُ لَا تَتِمُّ صَلَاةٌ لِأَحَدٍ مِنْ النَّاسِ حَتَّى يَتَوَضَّأَ فَيَضَعَ الْوُضُوءَ يَعْنِي مَوَاضِعَهُ ثُمَّ يُكَبِّرُ وَيَحْمَدُ اللَّهَ جَلَّ وَعَزَّ وَيُثْنِي عَلَيْهِ وَيَقْرَأُ بِمَا تَيَسَّرَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ يَرْكَعُ حَتَّى تَطْمَئِنَّ مَفَاصِلُهُ ثُمَّ يَقُولُ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَائِمًا ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ يَسْجُدُ حَتَّى تَطْمَئِنَّ مَفَاصِلُهُ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَيَرْفَعُ رَأْسَهُ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَاعِدًا ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ يَسْجُدُ حَتَّى تَطْمَئِنَّ مَفَاصِلُهُ ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ فَيُكَبِّرُ فَإِذَا فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ تَمَّتْ صَلَاتُهُ
“Sesungguhnya tidak sempurna shalat seseorang sehingga dia berwudlu’ yaitu membasuh anggota wudlu’nya (dengan sempurna) kemudian bertakbir, memuji Allah Jalla wa ‘Azza, menyanjung-Nya dan membaca AL Qur’an yang mudah baginya. Setelah itu mengucapkan Allahu Akbar, kemudian ruku’ sampai tenang semua persendiannya, lalu mengucapkan “Sami’allahu liman hamidah” sampai berdiri lurus, kemudian mengucapkan Allahu Akbar, lalu sujud sehingga semua persendiannya tenang. Setelah itu mengangkat kepalanya sambil bertakbir. Apabila dia telah mengerjakan seperti demikian, maka shalatnya menjadi sempurna.”
dari [Ali bin Yahya bin Khallad] dari [ayahnya] dari [pamannya yaitu Rifa’ah bin Rafi’] dengan makna yang sama, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّهَا لَا تَتِمُّ صَلَاةُ أَحَدِكُمْ حَتَّى يُسْبِغَ الْوُضُوءَ كَمَا أَمَرَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَيَغْسِلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ وَيَمْسَحَ بِرَأْسِهِ وَرِجْلَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثُمَّ يُكَبِّرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَيَحْمَدَهُ ثُمَّ يَقْرَأَ مِنْ الْقُرْآنِ مَا أَذِنَ لَهُ فِيهِ وَتَيَسَّرَ
“Tidak sempurna shalat salah seorang dari kalian sehingga dirinya menyempurnakan wudlu’ sebagaimana yang di perintahkan Allah Azza wa Jalla, yaitu membasuh mukanya dan kedua tangannya sampai kedua sikunya, dan membasuh kepalanya dan kedua kakinya hingga kedua mata kakinya, kemudian mengucapkan takbir, memuji Allah dan membaca Al Qur’an yang mudah baginya…”
kemudian ia menyebutkan seperti haditsnya Hammad, ia berkata;
ثُمَّ يُكَبِّرَ فَيَسْجُدَ فَيُمَكِّنَ وَجْهَهُ قَالَ هَمَّامٌ وَرُبَّمَا قَالَ جَبْهَتَهُ مِنْ الْأَرْضِ حَتَّى تَطْمَئِنَّ مَفَاصِلُهُ وَتَسْتَرْخِيَ ثُمَّ يُكَبِّرَ فَيَسْتَوِيَ قَاعِدًا عَلَى مَقْعَدِهِ وَيُقِيمَ صُلْبَهُ فَوَصَفَ الصَّلَاةَ هَكَذَا أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ حَتَّى تَفْرُغَ لَا تَتِمُّ صَلَاةُ أَحَدِكُمْ حَتَّى يَفْعَلَ ذَلِكَ
“…Kemudian bertakbir, bersujud dengan meletakkan muka Hammam mengatakan; sepertinya dia mengatakan atau keningnya ke tanah, sehingga semua persendiannya tenang dan menjadi rileks, lalu bertakbir dan duduk pada tempat duduknya hingga lurus tulang punggungnya, maka beliau mempraktekkan cara shalat tersebut hingga empat kali sampai selesai, tidak sempurna shalat seseorang di antara kalian, sehingga ia mengerjakan cara shalat yang seperti ini.”
telah menceritakan kepada kami [Wahb bin Baqiyah] dari [Khalid] dari [Muhammad yaitu Ibnu ‘Amru] dari [Ali bin Yahya bin Khallad] dari [ayahnya] dari [Rifa’ah bin Rafi’] dengan kisah seperti ini, sabdanya:
إِذَا قُمْتَ فَتَوَجَّهْتَ إِلَى الْقِبْلَةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ بِأُمِّ الْقُرْآنِ وَبِمَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَقْرَأَ
“Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, dan wajahmu telah menghadap ke arah kiblat, maka bertakbirlah, lalu bacalah Ummul Qur’an dan surat sesuka hatimu, dan sesuai kehendak Allah untuk kamu baca.
Setelah itu beliau bersabda:
وَإِذَا رَكَعْتَ فَضَعْ رَاحَتَيْكَ عَلَى رُكْبَتَيْكَ وَامْدُدْ ظَهْرَكَ
apabila kamu ruku’, maka letakkanlah kedua telapak tanganmu di atas kedua lututmu dan hamparkanlah punggungmu.”
Setelah itu beliau bersabda:
إِذَا سَجَدْتَ فَمَكِّنْ لِسُجُودِكَ فَإِذَا رَفَعْتَ فَاقْعُدْ عَلَى فَخِذِكَ الْيُسْرَى
“Apabila kamu hendak sujud, maka kuatkanlah (kedua tangan) untuk menyangga sujudmu, dan apabila kamu mengangkat (kepala dari sujud) maka duduklah di atas pahamu yang kiri.”
Telah menceritakan kepada kami [Mu’ammal bin Hisyam] telah menceritakan kepada kami [Isma’il] dari [Muhammad bin ishaq] telah menceritakan kepadaku [Ali bin Yahya bin Khallad bin Rafi’] dari [ayahnya] dari [pamannya yaitu Rifa’ah bin Rafi’] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kisah seperti ini,
dalam hadits tersebut beliau juga bersabda
فَإِذَا جَلَسْتَ فِي وَسَطِ الصَّلَاةِ فَاطْمَئِنَّ وَافْتَرِشْ فَخِذَكَ الْيُسْرَى ثُمَّ تَشَهَّدْ ثُمَّ إِذَا قُمْتَ فَمِثْلَ ذَلِكَ حَتَّى تَفْرُغَ مِنْ صَلَاتِكَ
Apabila kamu duduk di tengah mengerjakan shalat, maka TENANGKANLAH dirimu dan duduklah di atas paha kirimu, kemudian bacalah tasyahud. Setelah itu, apabila kamu berdiri, kerjakanlah seperti itu pula, sehingga kamu selesai dari shalat.”
dari [Rifa’ah bin Rafi’] bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu di ceritakannya hadits tersebut, di antaranya beliau bersabda:
تَوَضَّأْ كَمَا أَمَرَكَ اللَّهُ جَلَّ وَعَزَّ ثُمَّ تَشَهَّدْ فَأَقِمْ ثُمَّ كَبِّرْ فَإِنْ كَانَ مَعَكَ قُرْآنٌ فَاقْرَأْ بِهِ وَإِلَّا فَاحْمَدْ اللَّهَ وَكَبِّرْهُ وَهَلِّلْهُ
“…Maka berwudlu’lah sebagaimana yang di perintahkan oleh Allah Jalla wa Azza kepadamu, kemudian bacalah Tasyahud (setelah wudlu), dan dirikanlah (shalat) kemudian bertakbirlah, jika kamu bisa membaca (hafal) dari surat Al Qur’an, maka bacalah, jika tidak (bisa membaca), maka bertahmid (membaca Al Hamdulillah), bertakbir (membaca Allahu Akbar) dan bertahlil (membaca Laa ilaaha illallah) lah kepada Allah.”
dalam hadits itu pula beliau bersabda;
وَإِنْ انْتَقَصْتَ مِنْهُ شَيْئًا انْتَقَصْتَ مِنْ صَلَاتِكَ
“…Jika kamu mengurangi sedikit dari cara tersebut, berarti kamu mengurangi (kesempurnaan) shalatmu.”
(Shahiih, HR. Bukhaariy, Muslim, at-Tirmidziy, Abu Dawud, an Nasaa-iy dan selainnya)
Akibat mengurangi kesempurnaan shalat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلَّا عُشْرُ صَلَاتِهِ تُسْعُهَا ثُمْنُهَا سُبْعُهَا سُدْسُهَا خُمْسُهَا رُبْعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا
“Sesungguhnya ada seseorang yang benar-benar mengerjakan shalat, namun pahala shalat yang tercatat baginya hanyalah sepersepuluh (dari) shalatnya, sepersembilan, seperdelapan, sepetujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, dan seperduanya saja.”
(Hasan, Diriwayatkan oleh Abu Dawud, an-Nasa’i dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya dengan riwayat senada. HN. 537)
Dari Abul Yasar bahwa Nabi bersabda,
منكم من يصلي الصلاة كاملة ، و منكم من يصلي النصف ، والثلث ، الربع ، و الخمس حتي بلغ العشر
“Di antara kalian ada yang shalat dengan sempurna, di antara kalian ada yang shalat setengah, sepertiga, seperempat dan seperlima sampai men capai sepersepuluh.”
(Hasan, Diriwayatkan oleh an-Nasal dengan sanad hasan. Nama Abui Yasar dengan ya dan sin, keduanya dibaca fathah adalah Ka’ab bin Amr as-Sulami. Ikut dalam perang Badar. HN. 538 dalam Shahiih Targhiib wat tarhiib)
Agar ketidaksempurnaan shalat kita tertambal
Rasululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ
“Sungguh amalan hamba yang pertama kali dihisab dari seorang hamba adalah sholatnya. Apabila bagus maka ia telah beruntung dan sukses dan bila rusak maka ia telah rugi dan menyesal. Apabila ada kekurangan dari sholat wajib yang ia kerjakan, , maka Rabb Azza wa Jalla berfirman, ‘Lihatlah apakah hambaKu itu memiliki sholat tathawwu’ (sholat Sunnah). Lalu disempurnakan dengannya yang kurang dari sholat wajibnya tersebut, kemudian seluruh amalannya diberlakukan demikian…
(HR at-Tirmidziy dan lain-lain; kemudian ia berkata bahwa hadits ini; “Hadits Hasan Gharib”)
Keutamaan bagi orang yang menyempurnakan wudhu dan shalatnya
Dari Uqbah bin Amir dari Nabi bersabda,
ما من مسلم يتو ضأ فيسبغ الوضوء ، ثم يقوم في صلاته ، فيعلم ما يقول ، إلاانفتل وهو كيوم ولدته أمه
“Tidaklah seorang muslim berwudhu lalu dia menyempurnakan wudhunya kemudian dia berdiri dalam shalatnya dan dia memahami apa yang dia katakan, kecuali dia selesai sementara keadaannya seperti di hari dia dilahirkan oleh ibunya.”
[Diriwayatkan oleh al-Hakim, dan dia berkata, “Sanadnya shahih.” Saya (Syaikh al-Albaniy) berkata, “Disetujui oleh adz-Dzahabi dalam at-Talkhis(1/399).”]
Maka marilah kita menyempurnakan shalat kita!