Selasa, 27 September 2016

Karamah Abah Guru Sekumpul : Bangsa Jin Juga Hadir Di Majlis Pengajian Abah Guru Sekumpul

Seorang ulama yang memiliki murid bangsa jin, bukan merupakan hal yang salah, bahkan itu merupakan hal yang special tersendiri, berarti dakwahnya menjangkau ke alam sana. sejak masa Rasulullah banyak bangsa jin yang menyatakan keimanan dan keislamannya dihadapan Rasulullah SAW. Bahkan menurut Rasulullah, sambutan mereka dalam menerima islam justru lebih semarak daripada bangsa manusia.

Banyaknya jemaah majlis pengajian Mushallah Arraudah yang hadir, ternyata tidak menyurutkan keinginan beberapa jamaah bangsa jin juga untuk turut hadir di majelis itu.
Menurut Abah Guru Sekumpul Sendiri sewaktu di pengajian beliau menceritakan bangsa jin yang hadir di majelis ini kebanyakan adalah zuriat atau anak cucu datu bedok, Jin dari timur tengah yang dulu berbai'at dan berjanji setia untuk berkhadam kepada Syekh Muhammad Arsyad Albanjari dan seluruh Zuriatnya.

Datu Bedok menurunkan dua zuriat, zuriat laki laki yaitu Abdul Qahhar dan Abdul Qahhir, dua jin inilah yang selalu hadir di mejelis Sekumpul serta merta membantu keamanan dalam pelaksanaan pengajian di sekumpul dan bersama anak cucunya. mereka siap selalu mengabdi  dan berkhadam kepada ulama zuriat keturunan Syekh Muhammad Arsyad Albanjari atau Datu Kelampayan.

Karamah Abah Guru Sekumpul : Berbicara Dengan Orang Sudah Lama Wafat

ini pengalaman nyata yang dialami ayahanda penulis, Tuan Guru H. Muhammad ideram.
Suatu ketika sekitar awal tahun 2000 an, selesai majelis Mushalla Arraudah sekumpul, Abah Guru Sekumpul memanggil Ayahanda untuk masuk kekamar Mihrab, Setelah ketemu, Abah Guru bilang :
" Mad, aku sudah istiharah beberapa kali, pinanya yang terlintas dihadapanku ni ikam haja, Aku minta tolong lawan ikam cariakan aku wasi sampana carita, dibinuang atau di rantau".
Ayahanda sebagai murid, meski mengaku awam masalah besi besi bertuah, langsung mengiyakan.
"Inggih, Insyaallah" jawab Ayah.

Sesudah pertemuan itu  Ayah mencari dan menanyakan kemana mana jejak besi yang di sebut Sampana Carita tersebut. Ketika melihat keris yang terlihat nampak bertuah, bersama penulis, langsung mengantar kesekumpul. sampai beberapa kali mengantar, setelah diperiksa Abah Guru, ternyata bukan yang dimaksud. hal itulah yang membuat kami berdua seringkali berkunjung dan bertemu dengan Abah Guru Sekumpul.

Sampai beberapa bulan Ayah, dibantu penulis terus mencari, tetapi jejak Sampana Carita ini belum juga diketemukan. Namun tanpa lelah Ayah terus mencarinya,Hingga suatu saat Ayah dipanggil oleh Abah Guru Sekumpul lagi, meski belum ketemu barangnya Ayah menghadap Abah Guru.
"kayapa mad, belum dapatkah"? tanya Abah Guru Sekumpul seperti tahu kondisi ayah saat itu.
Ayah jawab jujur : "inggih Guru, belum". Guru Maklum apa yang disampaikan Ayah. Lalu Abah Guru Sekumpul sedikit bercerita : " Sampana Carita tue mad ae sebujurnya ada parak ikam, ikam tahu lah H. Johan, Mad..? Tanya Abah Guru. Inggih itu buhan anak Angkat ulun jua" jawab ayah.
"Abah  H, Johan, H Usman kalo ngarannya, sudah datang mad ae, kesini,memadahkan bahwa Sampana Carita itu ada wadah H. Johan".kata Abah Guru Sekumpul.

Ayah manggut manggut mendengar cerita Abah Guru Sekumpul, ini sebuah keganjilan, kerena H. Usman itu sebenarnya sudah meninggal puluhan tahn sebelumnya. sebuah karamah nyata, beliau bisa berjumpa dan berbicara dengan orang yang sudah lama wafat.

Mengakhiri pertemuan itu Abah Guru bilang pada Ayah : " jadi ikam mad ae, datangi kena ke wadah H. Johan, pabila inya kawa kesini bawa inya kesini. kaena telpon dulu aku". "Inggih" jawab Ayah
sekalian pamit untuk pulang. pada saat di tentukan, setelah Ayah menelpon, Ayah dan penulis dan H. Johan sekeluarga sowan ke sekumpul untuk menyerahkan besi Sampana carita tersebut.

Karamah Abah Guru Sekumpul : Guru Bakeri Dan Habib Abu Bakar Al-Habsyi Mekkah

Kisah ini barangkali sudah banyak diketahui oleh masyarakat umum, dituturkan oleh KH.Ahmad Bakeri, pengasuh Pondok Pesantren Al-Musyidul Amin Gambut, kata beliau mengawali kisahnya :
"kisah ini merupakan kisah nyata pengalaman pribadi Saya, dan jika saya berdusta, maka bisa disebut saya sebagai seorang munafik. suatu saat menjelang saya berangkat haji, saya datang menemui Abah Guru Sekumpul,kesempatan itu saya pergunakan untuk bertanya kepada beliau.: "Abah Guru, siapa Wali Qhutub saat ini yang berada di Mekkah ? Abah Guru Sekumpul menjawab sambil tersenyum :
"Bakri...Bakrii............Ngaran sidin ( nama beliau ) tue Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-Habsy. :
Saya bertanya lagi : " dimana kira kira ulun bisa ketemu lawan sidin ( dimana gerangan saya bisa ketemu dengan beliau )..? Abah Guru Sekumpul menjawab : kena ikam ketemuan aja lawan sidin ( nanti kamu ketemu saja dengan beliau ).

Dan tiba lah pada saatnya saya pun berangkat haji, namun hingga seminggu sebelum pulang ketanah air, saya masih belum berjumpa dengan Wali yang dimaksud. Akhirnya saya mencoba mencari informasi kepada mereka yang sudah lama bermukim di Mekkah. walhasil bahwa saya mendapatkan keterangan  bahwa beliau tinggal di jabal Nur. sayapun mendatangi tempat yang sudah diberitahukan tersebut, sesampai disana, persis tiba waktu shoalat Ashar dan saya ikut shalat. Namun selesai sholat, saya heran, kerena wirid yang dibaca disana sama persis dengan dibaca di Sekumpul.

Usai sholat kemudian di gelar majlis taklim dengan membaca kitab syarah ainiyah, saya tambah terkejut, kerena seingat saya saat itu di Sekumpul juga membaca kitab syarah ainiyah juga. Setelah mejelis selesai, saya meminta ijn untuk ketemu sama Habib Abu Bakar Al habsyi, tidak lama kemudian beliau keluar. beliau kelihatan sudah terlihat sepuh, tapi masih nampak gagah, belum sempat saya ucapkan salam. beliau sudah berkata : " Marhaban ya Alimul kabiir  Syekh Muhammad Zaini Ghani Martapura".( selamat datang  wahai seorang Alim besar Syekh Muhammad Zaini Ghani Martapura )". nampaknya beliau sudah tau apa yang sebenarnya, yang beliau lihat bukan saya, tapi Abah Guru Sekumpul, berarti Abah Guru Sekumpul sudah memberitahukan beliau, kalau saya akan sowan ketempat beliau, entah bagaimana caranya, sesuai pesan Abah Guru Sekumpul yang mewanti wanti saya untuk tidak banyak bicara,cukup minta doa dan minta diakui sebagai murid saja.

Sepulangnya saya ke Banjarmasin, saya pun sowan ke Sekumpul untuk bertemu Abah Guru Sekumpul, untuk menceritakan apa yang terjadi. sekaligus untuk menggembirakan beliau. malam itu tepat malam kamis, usai pengajian, saya iringi dibelakang beliau. sesampai dipintu rumah , beliau menengok kebelakang dan bilang : " Masuk Bakeri " saya diajak masuk kekamar beliau. dan Abah Guru pun mematikan lampu, sesat beliau membacakan doa yang cukup panjang. usai itu Abah Guru Sekumpul bilang " sudah bakeri ae kada usah dikisahkan aku tahu ae. ( sudah ngga usah di ceritakan lagi aku sudah tau ) saya pun mafhum, kerena bagi seorang wali  itu hal yang lumrah. sesudah itu saya pamit untuk pulang",

Cerita KH.Ahmad Bakeri tersebut menunjukan karamah dan kemuliaan yang besar dari Maulana Syekh Muhammad Zaini Bin Abdul Ghani Albanjari.

Karamah Abah Guru Sekumpul, Datang Diketahui Nama dan tempat Tinggalnya

Minggu, 26 Juni 2016
Karamah Abah Guru Sekumpul, Datang Diketahui Nama dan tempat Tinggalnya

Saat itu Guru Abah Guru Sekumpul baru beberapa saat membuka majlis pengajian di keraton, Usia beliaupun belum mencapai 40 tahun. Namun pengajian beliau tersebut, semakin hari semakin diminati oleh para penuntut ilmu, hingga begitu banyak jemaah yang berbondong bondong hadir ke majelis yang diadakan di rumah beliau.

Melihat kenyataan ini, tidak sedikit orang yang hiri dengki sehingga mencari celah dan kekurangan Abah Guru Sekumpul, supaya pengajiannya tersebut tutup dan berhenti. tidak sedikit fitnah dan tuduhan keji yang di tujukan kepada Abah Guru Sekumpul ini.

Seorang Guru yang Sholeh yang dikenal sangat menghormati ulama berasal dari kampung mengkauk,pengaron bernama Guru Kasful Anwar,sudah lama mendengar  adanya seorang ulama dari martapura, meski masih muda tapi kealimannya di akui oleh ulama yang tua tua. ulama yang dimaksud tidak lain adalah Zaini Abdul Ghani atau abah Guru Sekumpul yang dulu bermukim di keraton martapura.

keinginan Guru Kasful untuk bertemu  dan kemudian belajar sangat besar, kepada Guru Zaini hingga suatu hari beliau berangkat ke martapura, sampai ke martapura , kerna belum tau tempat tinggal Abah Guru Sekumpul, maka Guru Kasful anwar menanyakan kepada  orang orang dipasar Martapura, Semua orang saat itu terlihat sinis,ketika menanyakan keberadaan Guru Zaini.

Namun Guru Kasful tetap ingin bertemu Guru Zaini, sehingga beliau tanpa putus asa terus bertanya dimana domisili Guru zaini, Sebagian orang orang bahkan berusaha menghalangi keniginan Guru Kasful ini dengan mengatakan " ba apa pian kesana, Guru ijai  ne ajarannya sesat". Akhirnya dari cerita mereka itu, Guru kasful mengetahui alamat Guru Zaini di keraton. namun kerna tidak ada yang mau mengantar, beliau berjalan kaki kearah kampung keraton, sambil bertanya kepada orang orang yang bertemu di jalan.

Setali tiga uang, orang yang ditemui adalah orang yang benci kepada Guru Zaini ( Guru Sekumpul), bahkan ada bebrapa dari mereka menghalang halangi niat guru Kasful untuk bertemu dengan Guru Zaini,namun niat hati Guru Kasful tidak tergoyahkan,dan beliau terus menuju rumah Guru Zaini.

Setelah sampai dihalaman rumah Guru Zaini, dari rumah Guru Zaini langsung membukakan pintu dan bilang " Masuk Pul" masuk pul" Guru Kasful terkejut, kerena selama ini ia belum pernah bertemu atau kenalan denan beliau, tapi beliau sudah tau namanya, apalagi  sesudah itu Guru Zaini mengatakan :" ikam orang mengkauk kolo" .

Setelah Guru Kasful duduk dikamar tamu, Guru Zaini bilang lagi " kaya tue pang pul ae, orang yang mau jadi wali, lamun kada sampai 40 orang menyambati, memfitnah " Sadarlah Guru Kasful bahwa orang yang tengah dihadapinya bukan orang sembarangan. tapi seorang waliyullah.

Maka saat itu pula Guru Kasful bilang :"ijinkan ulun jadi murid pian dan ulun umpat mengaji lawan pian".dan berbincang bincang dengan Guru Zaini. dan tak lama sesudah itu  Guru Kasful meminta ijin untuk pulang,dengan rasa puas hati dan gembira kerna sudah bertemu dengan seorang yang selama ini beliau cari, yaitu seorang Murabbi Mursyid, seorang wali yang Kamil Mukammal.

Karamah Abah Guru Sekumpul : Perampok Yang Bertobat

Saat itu Abah Guru Sekumpul Berusia baru 10 Tahun , Tiba tiba beliau didatangi oleh seorang perampok yang terkenal bengis dan kejam, Semua terkejut dan sangat khawatir kalau terjadi apa apa dengan kedatangan perampok itu.

apa yang dikhawatirkan ternyata benar terjadi juga,singkat cerita penjahat itu memukul Abah Guru Sekumpul kecil ,namun sebelum mengenai beliau, perampok itu langsung terpental, lalu sungkem dan meminta ampun kepada Abaha Guru Sekumpul,

Selain itu sang perampok meminta , jika ilmu yang selama ini diamalkannya ternyata sesat atau tidak semestinya diamalkan agar dibimbing untuk di betulkan dan bersedia untuka betaubat.

mendengar hali itu beberapa saat kemudian Guru Sekumpul lalu masuk untuk memberitahukan masalah tersebut keada ayahnya, sesudah beliau kembali , ternyata perampok itu tertidur. Abah Guru Sekumpul membiarkan perampok itu tertidur, untuk beberapa lama, saipai dia bangun. perampok itu dilayani oleh Guru Sekumpul  dengan memerikan makan hingga kenyang,

ketika itu Guru Sekumpul menjelaskan kepada orang tuanya , tentang permintaan perampok ituubertaubat hingga menjadi orang baik dan menjadi murid Guru Sekumpul.

Rabu, 15 Juni 2016

10 PINTU REZEKI

Bismillahirrahmanirrahim.

1. MEMPERBANYAK ISTIGHFAR.

Allah swt berfirman: “Maka Aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Robb mu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Nescaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, membanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Qs. Nuh: 10-12)

Al-Qurtubi berkata, “Dalam ayat ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa istighfar merupakan salah satu cara diturunkan rezeki dan hujan.

Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa memperbanyak istighfar (memohon ampun pada Allah), nescaya Allah menggantikan setiap kesempitan menjadi jalan keluar, setiap kesedihan menjadi kelapangan dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” ( Abu Daud)

2. BERTAKWA KEPADA ALLAH

Allah berfirman: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, nescaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Qs. Ath-Thalaq: 2-3).

Ibnu Katsir berkata, “Maknanya, barangsiapa yang bertakwa kepada Allah dengan melakukan apa yang diperintahkan Nya dan meninggalkan apa yang dilarang Nya, nescaya Allah akan memberinya jalan keluar, serta rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari arah yang tidak pernah terlintas dalam fikirannya.”

3. BERTAWAKAL KEPADA ALLAH

Nabi Muhammad saw bersabda, “Sungguh, seandainya kalian betawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, nescaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana rezeki burung-burung, mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang di petang hari dalam keadaan kenyang.” (Ahmad dan Tirmizi)

4. RAJIN BERIBADAH

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah berfirman, “Wahai anak Adam!, beribadahlah sepenuhnya kepada Ku, nescaya Aku penuhi (hatimu) di dalam dada dengan kekayaan dan Aku penuhi keperluanmu. Jika kalian tidak lakukan yang sedemikian, nescaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak aku penuhi keperluanmu (kepada manusia).” ( Tirmizi, Ahmad, dan Ibnu Majah).

5. HAJI DAN UMRAH

Firman Allah swt, “Lakukanlah haji dan umrah, kerana sesungguhnya keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa, sebagaimana api dapat menghilangkan karat besi, emas, dan perak. Dan tidak ada pahala haji yang mabrur kecuali syurga.” (Ahmad, Tirmizi, dan An-Nasa`i).

6. MENJAGA SILATURAHIM

Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya) maka hendaknya ia menyambung (tali) silaturahim.” (Bukhari).

7. BANYAK BERSEDEKAH

Allah berfirman, “Katakanlah: ‘Sesungguhnya Robb ku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki Nya di antara hamba-hamba Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki Nya)’, dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (Qs. Saba`: 39).

Rasulullah saw bersabda dalam hadis Qudsi, “Wahai anak Adam, bersedekahlah, nescaya Aku memberi rezeki kepadamu.” (Abu Daud).

8. MEMBANTU PENUNTUT ILMU
Disebutkan sebuah kisah, “Dahulu ada dua orang saudara pada masa Rasulullah saw. Salah seorang daripadanya mendatangi nabi dan (saudaranya) yang lain bekerja. Lalu saudaranya yang bekerja itu mengadu pada nabi, maka Baginda saw bersabda, “Mudah-mudahan engkau diberi rezeki dengan sebab dia.” (Tirmizi, Hakim).

9. MEMBANTU ORANG LEMAH
Rasulullah saw bersabda, “Bantulah orang-orang lemah, kerana kalian diberi rezeki dan ditolong lantaran orang-orang lemah di antara kalian.” (Muslim dan An-Nasa`i).

10. BERHIJRAH
“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, nescaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.” (Qs. An-Nisa`: 100).

Moga kita sama-sama mengambil manfaat dan diberikan kemudahan oleh Allah untuk melakukannya dengan istiqamah.

Minggu, 12 Juni 2016

Sunat membaca surah al-ikhlas

SURAT Al Ikhlas, seperti halnya surat-surat yang lain juga memiliki banyak rahasia yang terkandung di dalamnya. Dinamakan surat Al Ikhlas, karena dia menyelamatkan orang yang membacanya dari kesulitan dunia akherat, dari kesulitan sakarotul maut, dari kesulitan kegelapan malam dan dari segala kesulitan resiko di hari kiamat.

Ternyata ada waktu tertentu yang dianjurkan membaca surat Al-Ikhlas. Berikut sembilan waktu yang dianjurkan untuk mengamalkan surat Al-Ikhlas:

Pada malam hujan lagi gelap gulita kami keluar mencari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk shalat bersama kami, lalu kami menemukannya. Beliau bersabda, “Apakah kalian telah shalat?” Namun sedikitpun aku tidak berkata-kata. Beliau bersabda, “Katakanlah“. Namun sedikit pun aku tidak berkata-kata. Beliau bersabda, “Katakanlah“. Namun sedikit pun aku tidak berkata-kata. Kemudian beliau bersabda, “Katakanlah“. Hingga aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku katakan?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Katakanlah (bacalah surat) QUL HUWALLAHU AHAD DAN QUL A’UDZU BIRABBINNAAS DAN QUL A’UDZU BIRABBIL FALAQ ketika sore dan pagi sebanyak tiga kali, maka dengan ayat-ayat ini akn mencukupkanmu (menjagamu) dari segala keburukan.” (HR. Abu Daud no. 5082 dan An Nasai no. 5428. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Kedua: sebelum tidur

“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika berada di tempat tidur di setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu kedua telapak tangan tersebut ditiup dan dibacakan ’Qul huwallahu ahad’ (surat Al Ikhlash), ’Qul a’udzu birobbil falaq’ (surat Al Falaq) dan ’Qul a’udzu birobbin naas’ (surat An Naas). Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukan yang demikian sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari no. 5017)

Ketiga: ketika ingin meruqyah (membaca do’a dan wirid untuk penyembuhan ketika sakit)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak tidur, beliau akan meniupkan ke telapak tangannya sambil membaca QUL HUWALLAHU AHAD (surat Al Ikhlas) dan Mu’awidzatain (Surat An Naas dan Al Falaq), kemudian beliau mengusapkan ke wajahnya dan seluruh tubuhnya. Aisyah berkata, “Ketika beliau sakit, beliau menyuruhku melakukan hal itu (sama seperti ketika beliau hendak tidur, -pen).”  (HR. Bukhari no.5748)

Keempat: wirid seusai shalat (sesudah salam)
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan padaku untuk membaca mu’awwidzaat  di akhir shalat (sesudah salam).” (HR. An Nasai no. 1336 dan Abu Daud no. 1523. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Yang dimaksud mu’awwidzaat adalah surat Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani. (Fathul Bari, 9/62)

Kelima: dibaca ketika mengerjakan shalat sunnah fajar (qobliyah shubuh)

“Sebaik-baik surat yang dibaca ketika dua raka’at qobliyah shubuh adalah Qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlash) dan Qul yaa ayyuhal kaafirun (surat Al Kafirun).” (HR. Ibnu Khuzaimah 4/273. Syaikh Al Albani mengatakan dalam Silsilah Ash Shohihah bahwa hadits ini shahih. Lihat As Silsilah Ash Shohihah no. 646). Hal ini juga dikuatkan dengan hadits Ibnu Mas’ud yang akan disebutkan pada point berikut.

Keenam: dibaca ketika mengerjakan shalat sunnah ba’diyah maghrib
“Aku tidak dapat menghitung karena sangat sering aku mendengar bacaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat pada shalat dua raka’at ba’diyah maghrib dan pada shalat dua raka’at qobliyah shubuh yaitu Qul yaa ayyuhal kafirun (surat Al Kafirun) dan qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlash).” (HR. Tirmidzi no. 431. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Ketujuh: dibaca ketika mengerjakan shalat witir tiga raka’at

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sa llam membaca pada raka’at pertama: Sabbihisma robbikal a’la (surat Al A’laa), pada raka’at kedua: Qul yaa ayyuhal kafiruun (surat Al Kafirun), dan pada raka’at ketiga: Qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlash) dan mu’awwidzatain (surat Al Falaq dan An Naas).” (HR. An Nasai no. 1699, Tirmidzi no. 463, Ahmad 6/227)

Kedelapan: dibaca ketika mengerjakan shalat Maghrib (shalat wajib) pada malam jum’at
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika shalat maghrib pada malam Jum’at membaca Qul yaa ayyuhal kafirun’ dan ‘Qul ‘ huwallahu ahad’. ” (Syaikh Al Albani dalam Takhrij Misykatul Mashobih (812) mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Kesembilan: ketika shalat dua rak’at di belakang maqom Ibrahim setelah thowaf
“Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan maqom Ibrahim antara dirinya dan Ka’bah, lalu beliau laksanakan shalat dua raka’at. Dalam dua raka’at tersebut, beliau membaca Qulhuwallahu ahad (surat Al Ikhlas) dan Qul yaa-ayyuhal kaafirun (surat Al Kafirun). Dalam riwayat yang lain dikatakan, beliau membaca Qul yaa-ayyuhal kaafirun (surat Al Kafirun) dan Qulhuwallahu ahad (surat Al Ikhlas).” (Disebutkan oleh Syaikh Al Albani dalam Hajjatun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal. 56)

Meskipun ada anjuran 9 waktu di atas. Namun membaca surat Al-Ikhlas tidaklah terpaku pada 9 waktu tersebut. Di mana pun kapanpun boleh membaca surat Al-Ikhlas sebagai bentuk dzikir kepada Allah SWT. Wallahu a’lam.